MAKALAH PPKN

Posted: 19 Februari 2012 in Kumpulan Makalah
Tag:

KATA PENGANTAR

Bissmillah  segala puji bagi Allah SWTshalawat dan salam semoga tetap tercurahkan kepada junjunan Nabi Muhammad SAW seiring keluarga, sahabat dan para pengikutnya hingga akhir zaman. Dengan iringan rahmat, inayah dan hidayah Allah SWT saya telah diberi kemampuan untuk menyusun makalah ini.

Proses menuju abad 21 telah berlangsung sejak tahun tujuh puluhan. Dalam percaturan internasional tak ada yang bisa menghindar atau mengelakkan diri dari proses ini. Pengaruh yang datang tak lagi bisa dibendung, mengalir deras tanpa kenal batas. Film, surat kabar, majalah, radio, televisi gencar menyuguhkan pemikiran, sikap dan perilaku yang sebelumnya tidak dikenal. Gaya hidup baru yang diberi label ‘modern’ diperkenalkan secara luas. Naisbitt dan Aburdene (1990) sebagaimana dikutip oleh Sri Mulyani Martaniah (1991) mengatakan bahwa era globalisasi memungkinkan timbulnya gaya hidup global.

Dalam makalah ini diuraikan mengenai Peran Pendidik Mempersiapkan Pendidikan Anak Usia Dini Di Era Global, manfaat dan dampak negatifnya serta peran orang tua dalam mendidik anak-anaknya.

Penulis sadar dari berbagai kekurangan pengetahuan, penyajian, dan penyampaian bahasan, dari semua itu penulis berharap keberadaan makalah ini tidak mengurangi kemanfaatan bagi para pembaca dan pemerhati.

Dengan penuh kerendahan dan penuh rahmat, penulis ucapkan terima kasih kepada ibu dosen mata kuliah PPKN yang telah memberikan tugas ini.

Terima kasih juga saya sampaikan kepada semua pihak atas terwujudnya tugas makalah sederhana ini dengan baik.

Akhirnya kepada Allah saya bertawakal dan berserah diri kepadanya, amin.

 

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR

DAFTAR ISI

PENDAHULUAN

  1. Latar Belakang

PEMBAHASAN

  1. Pengertian Globalisasi
  2. Dampak positif Globalisasi
  3. Dampak negatif Globalisasi
  4. 4.      Tuntutan di era global
  5. 5.      Pendidikan di era global
  6. 6.      Cara merangsang kemampuan anak usia dini agar berkembang secara optimal
  7. 7.      PERAN ORANG TUA DALAM PENDIDIKAN ANAK
  8. 8.      PERANAN KELUARGA DALAM PEMBENTUKAN PERILAKU DAN PROYEKSI DI ABAD 21
  9. 9.      7 Tanggung Jawab Orang Tua dalam Mendidik Anak

PENUTUP

  1. Kesimpulan
  2. Saran

DAFTAR PUSTAKA

 

PERAN PENDIDIK MEMPERSIAPKAN PENDIDIKAN ANAK USIA DINI DI ERA GLOBAL

  1. 1.      PENDAHULUAN

1.1.   Latar Belakang

Peran_Pendidik Proses edukasi di era global, para pendidik perlu mencermati cara-cara memupuk kemampuan anak untuk menyikapi dan memandang dirinya secara positif agar memiliki konsep diri positif. Untuk menjadi fasilitator bagi anak didik sesuai idealisme era global, pendidik perlu menumbuhkan panggilan hidup sejati dan terus belajar.

Sejauh manakah pendidikan masa kini mempersiapkan sumberdaya manusia yang terampil dan tangguh agar sukses menghadapi tantangan era global? Di era global yang mengarah pada dinamika percepatan hidup dan masyarakat elektronik canggih, setiap individu dan organisasi tidak mungkin mengisolasi diri dari pengaruh global. Oleh karena itu proses belajar bukan lagi duopoli orangtua dan guru, tetapi lingkungan sekitar termasuk masyarakat adalah bagian dari ”pendidik” bagi setiap anak didik.

Untuk menghasilkan individu yang berkualitas di era global perlu dilakukan analisis untuk memahami tuntutan kebutuhan masa depan, analisis peluang, termasuk evaluasi yang bertumpu pada potensi dan karakteristik anak didik sesuai fenomena tuntutan kehidupan yang cepat dan dinamis. Lantas sejauh manakah kontibusi orang tua, guru maupun masyarakat dalam mengoptimalkan kesiapan masa depan peserta didik era global? Apakah hanya kemampuan akademik saja yang menjadi kriteria sukses hidup era global? Sejauh manakah orang tua, guru maupun masyarakat siap menghadapi tuntutan dan persaingan hidup di era global?

Seiring dengan perubahan jaman, masyarakat pun mengembangkan norma-norma, pandangan dan kebiasaan baru dalam berperilaku. Era globalisasi yang mewarnai abad 21 telah memunculkan pandangan baru tentang arti bekerja. Ada yang lebih luas dari sekadar makna mencari nafkah dan ukuran kecukupan dalam memenuhi kebutuhan keluarga.

Wajah keluarga juga berubah. Perkembangan jaman yang merubah gaya hidup masyarakat ikut mewarnai kehidupan keluarga. Peran suami istri, pola asuh dan pendidikan anak tidak bisa mempertahankan pola lama sepenuhnya. Pengaruh yang diterima suami istri, juga yang diterima anak dalam proses perkembangannya, tak lagi bisa dipisahkan dari dunia di luar rumah. Melalui perangkat teknologi anak bisa langsung menerima pengaruh dari luar, yang tentu saja akan selalu mempunyai dua sisi, baik dan tidak baik, positif dan negatif. Situasi inilah yang akan mewarnai kehidupan anak dan orang tua di abad 21. Orang tua tak lagi menjadi pewarna tunggal dalam pengembangan pola sikap dan tingkah laku anak. Ada lingkungan yang lebih luas dan leluasa memasuki kehidupan keluarga dalam menawarkan berbagai bentuk perilaku untuk diamati, dipilih, dan diambil alih anak. ‘Teman’ dan ‘pesaing’ orang tua menjadi bertambah, sebab lingkungan memang tidak hanya terdiri dari dukungan atau penguat pesan-pesan dan nilai yang ditanamkan orang tua, tetapi juga menjadi penghambat dan pengganggu penerimaan pesan dan nilai tersebut.

Perkembangan kehidupan keluarga yang mewarnai abad 21 memunculkan penampilan ibu yang berbeda dalam peran dan fungsinya selaku penyelenggara rumah tangga dan pendidik anak. Seiring dengan pemunculan ibu dalam kegiatan di luar rumah (bekerja, melakukan kegiatan sosial-budaya), kehadiran ibu yang tidak lagi 24 jam di rumah menimbulkan pertanyaan tentang hasil yang bisa diharapkan dari pola asuhan dan pendidikan dalam situasi seperti itu. Apa jadinya setelah ibu juga sibuk di luar, padahal ibu dikenal selaku pendidik pertama dan utama? Bisakah anak tetap diharapkan mampu berkembang optimal tanpa kehadiran ibu? Kalau ibu tidak ada, siapa yang layak ditunjuk dan diserahi tanggung jawab sebagai pengganti? Pertanyaan ini menjadi terasa lebih bermakna karena ayah tak juga menjadi surut dari kegiatannya di luar rumah, bahkan cenderung meningkat seiring dengan tuntutan kehidupan abad 21. Nah, kalau ayah dan ibu sama-sama tidak bisa hadir penuh, lalu siapa yang harus menjadi pengganti mereka berdua? Padahal, kehadiran itu sangat diperlukan anak, tak peduli berapapun umurnya, sebab proses pendidikan berlangsung selama masa perkembangannya, sejak kanak-kanak sampai dewasa. Jadi, bukan hanya balita (anak berumur di bawah lima tahun) yang memerlukan kehadiran bapak dan ibu, tetapi juga anak pada tahapan perkembangan selanjutnya, yakni mereka yang berada dalam tahap perkembangan kanak-kanak, pra remaja, remaja, dewasa muda, dewasa.

Mencari pengganti ibu tampaknya merupakan masalah yang akan mewarnai abad 21. Tidak mudah memperoleh pengasuh anak.. Hampir tak ada lagi pengasuh anak dalam keluarga yang bisa membantu ibu dan berperan turun temurun, dari generasi ke generasi, seperti yang pernah dialami pada era sebelumnya. Unsur kesetiaan dan pengabdian sudah berubah menjadi transaksi ekonomi semata, sekadar menjual dan memakai jasa. Sementara itu gagasan untuk mengatasi masalah ini dengan mendirikan Tempat Penitipan Anak (TPA) masih memerlukan banyak pengkajian dan pertimbangan.

Masalah pendidikan anak yang mewarnai abad 21 perlu disikapi sungguh-sungguh sejak sekarang. Bekal untuk anak agar bisa tumbuh dan berkembang sebagai sosok pribadi yang sehat jasmani dan rohani.

  1. 2.      PEMBAHASAN
  2. Pengertian Globalisasi

Globalisasi adalah suatu proses di mana antarindividu, antarkelompok, dan antarnegara saling berinteraksi, bergantung, terkait, dan mempengaruhi satu sama lain yang melintasi batas negara. Globalisasi ekonomi membawa dampak positif maupun negatif.

  1. Dampak positif Globalisasi :

1. Mudah memperoleh informasi dan ilmu pengetahuan

2. Mudah melakukan komunikasi

3. Cepat dalam bepergian ( mobili-tas tinggi )

4. Menumbuhkan sikap kosmopo-litan dan toleran

5. Memacu untuk meningkatkan kualitas diri

6. Mudah memenuhi kebutuhan

  1. Dampak negatif Globalisasi:

1. Informasi yang tidak tersaring

2. Perilaku konsumtif

3. Membuat sikap menutup diri, berpikir sempit

4. Pemborosan pengeluaran dan meniru perilaku yang buruk

5. Mudah terpengaruh oleh hal yang berbau barat

Munculnya globalisasi tentunya membawa dampak bagi kehidupan suatu negara termasuk Indonesia. Dampak globalisasi tersebut meliputi dampak positif dan dampak negatif di berbagai bidang kehidupan seperti kehidupan politik, ekonomi, ideologi, sosial budaya dan lain- lain akan berdampak kepada nilai- nilai nasionalisme terhadap bangsa.

  1. 4.      Tuntutan di era global

Hidup pada era global menuntut individu untuk siap menghadapi kecanggihan perkembangan teknologi yang sangat cepat dan pesat. Perkembangan teknologi yang sangat pesat menuntut gaya hidup individu yang dinamis dan siap untuk berubah. Persaingan ketat akan menjadi fenomena yang akan dihadapi setiap individu diera MDG (Millenium Development Growth). Untuk mempersiapkan hidup masa depan di era global yang penuh tantangan, individu hendaknya memiliki konsep diri positif dengan sikap aktif, serta inovatif dan kreatif. Mengacu pandangan Burns dalam Ilmu Psikologi, konsep diri merupakan pandangan dan sikap seseorang terhadap dirinya sendiri, baik buruk, karakteristik maupun motivasi. Mengacu pada pengertian konsep diri dapat dipahami bahwa aspek-aspek tersebut adalah inti kepribadian manusia. Inti kepribadian merupakan aspek penting yang erat terkait dengan perilaku manusia. Mengapa? Konsep diri adalah bentuk keselarasan batiniah, bila batiniah individu kurang nyaman akan nampak pula pada perilaku dirinya.

Perilaku individu sangat mempengaruhi bagaimana individu menafsirkan pengalaman hidupnya. Pengalaman hidup mengarah pada pandangan dan gaya hidup seseorang. Bila individu memandang konsep dirinya rendah, maka ia akan mundur dan merasa tidak memiliki kemampuan mengerjakan. Namun apabila individu tersebut merasa yakin dan tertantang untuk mempu mengerjakannya, maka iapun mencoba dan berfikiran positif untuk menyelesaikan tugas tersebut.

Dalam proses edukasi pada era global para pendidik perlu mencermati cara-cara memupuk kemampuan anak untuk menyikapi dan memandang dirinya secara positif agar memiliki konsep diri positif. Apabila anak merasa kurang mampu, berarti si pendidik harus menuntun anak didiknya sesuai dengan kemampuannya. Berikan pada anak tersebut kesempatan untuk maju menghadapi berbagai kegiatan yang sesuai karakteristik anak. Jangan suka melabel dan memberi stigma yang negatif, sehingga terbentuk konsep diri yang negatif. Ajak anak untuk berpikir realistis dan positif dengan dukungan pendidik.

Pada era global obsesi pendidik yang memandang anak sebagai gambaran dirinya, perlu dikikis. Begitu pula sikap orangtua yang kurang memahami karakteristik anaknya, sehingga cenderung memotret dirinya pada anaknya. Kondisi tersebut akan menyebabkan anak akan merasa kurang mampu, dan akhirnya anak akan mengundurkan diri. Sebagai contoh dapat dilihat bahwa ada banyak anak yang mengikuti kegiatan (les) yang belum tentu sesuai dengan minat dan kemampuannya. Les yang diikuti belum tentu memupuk rasa harga diri yang positif, bahkan dapat menumbuhkan beban psikologis.

  1. 5.      Pendidikan di era global

Beban belajar yang melebihi kapasitas kemampuan anak, akan menumbuhkan stres sehingga tumbuh rasa yang kurang nyaman. Fenomena tersebut dapat merujuk pada suasana belajar yang tidak kondusif yang menyebabkan anak merasa sekolah sebagai ”penjara”, dan bukan tempat yang menyenangkan. Kecemasan psikologis pada anak tersebut perlu dihayati oleh pendidik agar peserta didiknya tidak menjadi ” manusia kerdil ” di era global. Manusia era global adalah manusia yang perduli akan hak asasinya dan memiliki kepedulian solidaritas.

Prof Dr. H.A.R. Tilaar, menekankan bahwa manusia era global jangan hanya terbatas pada ” knowing how or knowing what” tapi perlu menumbuhkembangkan kemampuan anak seoptimal mungkin.

1. Anak didik bukan hanya mempelajari materi pelajaran, melainkan lebih penting bagi anak didik untuk mampu mengkomunikasikan (learning to know).

2. Anak didik dapat mempelajari bagaimana kratifitas, produktifitas, ketangguhan dan profesionalitas dalam menghadapi situasi era global yang terus berkembang (learning to do)

3. Anak didik harus mampu mengembangkan potensi diri yang meliputi kemandirian, kemampuan bernalar, imajinasi, kesadaran ektetik, disiplin dan tanggung jawab (learning to be)

4. Anak didik hendaknya mempunyai pemahaman hidup yang seimbang dengan menghormati nilai spiritual dan tradisi budaya(learning to live together)

Untuk dapat menjadi fasilitator bagi anak didik sesuai idealisme era global, maka pendidik perlu memperhatikan beberapa hal ideal yang perlu dimiliki oleh seorang pendidik. Baik orangtua maupun guru perlu menumbuhkan panggilan hidup sejati (genuineness) dalam dirinya sebagai pendidik yang mempersiapkan anak-anak untuk hidup di era global. Sebagai pendidik mereka harus menumbuhkan positif reward, agar peserta didik memperoleh self-reward yang positif.  Selain itu, pendidik juga harus mempunyai kemampuan untuk terus menerus belajar (long life learning) agar mampu menghantarkan dan memenuhi kebutuhan anak didiknya sesuai dengan perkembangan zaman.

Idealisme tersebut perlu dimiliki pendidik agar dapat memunculkan anak-anak berkualitas era global, yang  diharapkan memiliki potensi antara lain :

1. Konsep diri positif

2. Semangat juang , tanpa rasa putus asa

3. Pengetahuan umum luas

4. Mampu berargumentasi

5. Komitmen tinggi

6. Berani mengambil keputusan

7. Berani menentukan prioritas

8. Berani konsekuen dan bertanggung jawab

9. Berpekerti luhur

10. Menjalin sinergi yang menguntungkan

  1. Cara merangsang kemampuan anak usia dini agar berkembang secara optimal, antara lain :

1. Gunakan kata-kata sederhana sehingga anak mampu memberi tanggapan dan menangkap pesan pendidik. Tatap muka anak (one-by-one) dan perhatikan verbalnya.

2. Tanamkan pemahaman konsep dengan learning by doing, contoh dengan bermain balok, anak dapat membedakan besar, kecil, sama, tidak sama, banyak sedikit.

3. Rangsang kreatifitas anak melalui pengenalan lirik lagu, alat-alat musik dimulai dari yang sederhana.

4. Formula susu dengan DHA mampu merangsang aktifitas anak dan mempercepat aktifitas berimajinasi dan berkhayal .

5. Rangsang anak melalui pengembangan body kinesthetic dengan mengajak meloncat, meniti, bermain dialam bebas (jungle wood).

6. Bentuk kemampuan bergaul anak dengan mengenali perasaan orang lain maupun diri sendiri (sedih, cemas, bimbang)

7. Latih anak untuk dapat mengekspresikan emosi diri dan memberi respons melalui emosi yang stabil. Beri penghargaan dan bukan caci maki anak sehingga mematikan perasaannya.

8. Ajak anak mengenali dan memelihara alam lingkungan agar mampu ikut berperan melestarikan alam (global warming)

Sukses hidup di era global bukan hanya dilakukan di sekolah yang ”mewah”, modern, dengan program-program cangggih. Namun perlu diperhatikan bahwa pendidikan era global lebih menekankan pada pembentukan integritas kepribadian anak didik yang utuh baik intelegensia, emosi, sosial juga segi spiritualitas. Pembentukan pribadi yang siap dan utuh merupakan tantangan menghadapi tuntutan era global. Dengan demikian pendidikan merupakan tanggung jawab bersama antara orangtua, sekolah dan masyarakat. Orangtua dan pendidik adalah model bagi setiap anak didik dalam perkembangannya. Komunikasi empatik antara 3 unsur ini sangat vital dalam menyongsong persiapan anak usia dini menuju Millenium Development Growth (MDG)

  1. 7.      PERAN ORANG TUA DALAM PENDIDIKAN ANAK

Pendidikan merupakan tanggung jawab bersama antara keluarga masyarakat dan pemerintah. Sehingga orang tua tidak boleh menganggap bahwa pendidikan anak hanyalah tanggung jawab sekolah.

Pendidikan merupakan suatu usaha manusia untuk membina  kepribadiannya agar sesuai dengan norma-norma atau aturan di dalam masyaratakat. Setiap orang dewasa di dalam masyarakat dapat menjadi pendidik, sebab pendidik merupkan suatu perbuatan sosial yang mendasar untuk petumbuhan atau perkembangan  anak didik menjadi manusia yang mampu berpikir dewasa dan bijak.

Orang tua sebagai lingkungan pertama dan utama dimana anak berinteraksi sebagai lembaga pendidikan yang tertua, artinya disinilah dimulai suatu proses pendidikan.  Sehingga orang tua berperan sebagai pendidik bagi anak-anaknya. Lingkungan keluarga juga dikatakan lingkungan yang paling utama, karena sebagian besar kehidupan anak di dalam keluarga, sehingga pendidikan yang paling banyak diterima anak adalah dalam keluarga. Menurut Hasbullah (1997), dalam tulisannya tentang dasar-dasar ilmu pendidikan, bahwa keluarga sebagai lembaga pendidikan memiliki beberapa fungsi yaitu fungsi dalam perkembangan kepribadian anak  dan  mendidik anak dirumah; fungsi keluarga/orang tua dalam mendukung pendidikan di sekolah.

Fungsi keluarga dalam pembentukan kepribadian dan mendidik anak di rumah:

•           sebagai pengalaman pertama masa kanak-kanak

•           menjamin kehidupan emosional anak

•           menanamkan dasar pendidikan moral anak

•           memberikan dasar pendidikan sosial

•           meletakan dasar-dasar pendidikan agama

•           bertanggung jawab dalam memotivasi dan mendorong keberhasilan anak

•           memberikan kesempatan belajar dengan mengenalkan berbagai ilmu pengetahuan dan keterampilan yang berguna bagi   kehidupan kelak sehingga ia mampu menjadi manusia dewasa yang mandiri.

•           menjaga kesehatan anak sehingga ia dapat dengan nyaman menjalankan proses belajar yang utuh.

•           memberikan kebahagiaan dunia dan akhirat dengan memberikan pendidikan agama sesuai ketentuan Allah Swt, sebagai   tujuan akhir manusia.

Fungsi keluarga/ orang tua dalam mendukung pendidikan anak di sekolah :

•           orang tua bekerjasama dengan sekolah

•           sikap anak terhadap sekolah sangat di pengaruhi oleh sikap orang tua terhadap sekolah, sehingga sangat dibutuhkan   kepercayaan orang tua terhadap sekolah  yang menggantikan tugasnya selama di ruang sekolah.

•           orang tua harus memperhatikan  sekolah anaknya, yaitu dengan memperhatikan pengalaman-pengalamannya dan   menghargai segala usahanya.

•           orang tua menunjukkan kerjasama dalam menyerahkan cara belajar   di rumah, membuat pekerjaan rumah dan memotivasi   dan membimbimbing anak dalam belajar.

•           orang tua bekerjasama dengan guru untuk mengatasi kesulitan belajar anak

•           orang tua bersama anak mempersiapkan jenjang pendidikan yang akan dimasuki dan mendampingi selama menjalani   proses belajar di lembaga pendidikan.

Untuk dapat menjalankan fungsi tersebut secara maksimal, sehingga orang tua harus memiliki kualitas diri yang memadai, sehingga anak-anak akan berkembang sesuai dengan harapan. Artinya orang tua harus memahami hakikat dan peran mereka sebagai orang tua dalam membesarkan anak, membekali diri dengan ilmu tentang pola pengasuhan yang tepat, pengetahuan tentang pendidikan yang dijalani anak, dan ilmu tentang perkembangan anak, sehingga tidak salah dalam menerapkan suatu bentuk pola pendidikan terutama dalam pembentukan kepribadian anak yang sesuai denga  tujuan pendidikan itu sendiri untuk mencerdasakan kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia Indonesia seutuhnya, yaitu manusia yang beriman dan bertaqwa terhadap Tuhan YME dan berbudi pekerti luhur, memiliki pengetahuan dan keterampilan, kesehatan jasmani dan rohani, kepribadian yang mantap dan mandiri serta rasa tanggung jawab kemasyarakatan dan kebangsaan.

Pendampingan orang tua dalam pendidikan anak diwujudkan dalam suatu cara-cara orang tua mendidik anak. Cara orang tua mendidik anak inilah yang disebut sebagai pola asuh. Setiap orang tua berusaha menggunakan cara yang paling baik menurut mereka dalam mendidik anak. Untuk mencari pola yang terbaik maka hendaklah orang tua mempersiapkan diri dengan beragam pengetahuan untuk menemukan pola asuh yang tepat dalam mendidik anak.

  1. 8.      PERANAN KELUARGA DALAM PEMBENTUKAN PERILAKU DAN PROYEKSI DI ABAD 21

Suasana pembangunan yang lebih terfokus di bidang ekonomi ditingkah dengan era globalisasi telah mengubah tatanan kehidupan masyarakat. Tawaran untuk menikmati gaya hidup global telah mendorong semua orang untuk sibuk mencari uang, dengan berbagai cara. Setiap orang, laki-laki dan perempuan, berusaha pagi dan petang. Mereka membanting tulang dan memeras keringat untuk meraih yang terbaik demi gaya hidup global. Tentu saja kondisi ini berpengaruh terhadap kehidupan kekeluargaan, yang menjadi kurang terbina. Mulailah terjadi kerenggangan antara suami istri, orang tua dan anak, yang tentunya sukar untuk diharapkan sebagai tempat persemaian tumbuh kembang anak secara optimal. Era globalisasi juga melahirkan kompetisi yang membutuhkan kompetensi tinggi di segala bidang untuk bisa menjadi pemenang. Hanya yang terbaik yang bisa memenangkan kompetisi. Akibatnya, orang tua memaksa anak meninggalkan dunianya dan mengisinya dengan upaya pembekalan diri untuk dapat meraih kompetensi sebanyak-banyaknya. Dunia kanak-kanak yang ceria tak lagi bisa dinikmati, berganti dengan jadwal ketat yang mengantarnya pada situasi yang selalu serius dan memandang jauh ke depan. ‘Paksaan’ yang melanda anak dalam penafsiran era globalisasi di bidang ekonomi ini tentunya bisa berdampak negatif terhadap perkembangan anak di kemudian hari, baik terhadap kehidupan pribadinya maupun dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.

Newman & Newman (1981) menyebutkan tiga unsur pendukung kemampuan seseorang untuk bisa menyesuaikan diri dengan baik, yaitu dirinya sendiri, lingkungan dan situasi krisis dalam pengalaman hidupnya yang sangat membekas dalam dirinya. Pada unsur pribadi (diri sendiri) tercakup kemampuan untuk bisa merasa, berpikir, memberikan alasan, kemauan belajar, identifikasi, kesediaan menerima kenyataan, dan kemampuan memberikan respon sosial. Kemampuan tersebut didasari oleh tingkat kecerdasan yang dimiliki, temperamen, bakat, dan aspek genetika. Berdasarkan konsep tersebut maka proses penyesuaian diri bagi anggota masyarakat merupakan keterkaitan yang sangat erat antara kondisi pribadi, situasi lingkungan dan kemampuan mengelola pengalaman.

  1. 9.      7 Tanggung Jawab Orang Tua dalam Mendidik Anak

1. Pendidikan Agama

Pendidikan agama merupakan hal paling mendasar dan paling utama untuk diajarkan kepada anak-anak. Melalui pendidikan inilah mereka mengenal siapa Penciptanya, bagaimana Sang Pencipta berkomunikasi dengan ciptaannya, serta berbagai hal mendasar lainnya yang pada akhirnya ketika mereka cukup dewasa mereka akan mengerti & memahami  untuk apa mereka dilahirkan ke dunia ini dan apa yang mesti mereka lakukan dalam kehidupan mereka.

Melalui pendidikan agama pulalah ahlak & moral seorang anak bisa dibentuk. Tanpa adanya pendidikan ini, seorang anak akan menjadi gamang & bingung karena tidak memiliki sebuah standar sikap & perilaku sebagai representasi dari akhlak & moralnya.

2. Pendidikan fisik

Pendidikan fisik adalah pendidikan yang juga mendukung dalam perkembangan anak, seorang anak juga harus memiliki fisik yang kuat dan tegar, apalagi di era globalisasi yang semakin keras Salah satu yang perlu diperhatikan oleh orang tua adalah mengajarkan kepada anak sejak dini usia tentang pentingnya menjaga kesehatan, seperti olahraga teratur dan dari hal-hal yang dapat memberikan efek negatif seperti rokok, minuman keras dan narkoba.

3. Pendidikan intelektual

Pendidikan intelektual diperlukan agar anak mampu mengenal & memahami berbagai ilmu pengetahuan sehingga mereka memiliki wawasan, pola pikir, & daya analisis yang kesemuanya diperlukan untuk menghadapi berbagai tantangan dalam kehidupan mereka selanjutnya.

“…niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan”. (Q.S. Al Mujaadilah, 58:11)

4. Pendidikan psikologis

Berkenaan dengan obyek psikologi ini, maka yang paling mungkin untuk diamati dan dikaji adalah manifestasi dari jiwa itu sendiri yakni dalam bentuk sikap & perilaku individu dalam berinteraksi dengan dirinya sendiri maupun dengan lingkungannya.

Berinteraksi dengan dirinya sendiri yang dimaksud adalah bagaimana seorang anak berfikir tentang seperti apa dirinya yang akan direpresentasikan dalam sikap & perilaku kesehariannya dan dalam lingkungannya. Oleh karenanya, sangat penting bagi orang tua untuk selalu mempengaruhi jiwa anak-anak untuk selalu berpikir & bersikap positif, sportif, & bertanggungjawab. Dan ini hanya bisa dilakukan oleh orang tua melalui teladan, baik berupa perkataan maupun sikap & perilaku orang tua.

Semakin sering seorang anak mendengar & melihat hal-hal positif dari orang tuanya, maka ia akan melihat dirinya sebagai orang yang positif & akan berperilaku seperti itu, dan demikian pula sebaliknya.

5. Pendidikan sosial

Dalam pendidikan sosial, orang tua sangat berperan untuk mengajarkan & membekali anak dengan keterampilan hidup bermasyarakat dan menjadikan anak itu adalah anak yang memiliki kepekaan sosial, yang mengerti & memahami tentang arti saling menghargai & hidup berdampingan dalam masyarakat.

6. Pendidikan seksual

Pendidikan ini tetap perlu diberikan kepada anak-anak sesuai dengan tingkat usia dan pemahamannya dan dalam taraf yang positif. Namun dalam hal ini orang tua harus memiliki pedoman yang pasti agar mereka tidak salah baik dalam penyampaiannya maupun materi yang disampaikannya.

7. Pendidikan finansial

Pendidikan finansial perlu diberikan kepada anak sehingga mereka bisa belajar mengatur  keperluan finansialnya dan membantu memastikan bahwa mereka tidak akan mengalami kegagalan finansial dalam hidupnya atau kekurangan secara finansial.

  1. 3.      PENUTUP

Kesimpulan

Keluarga adalah lingkungan yang pertama dan utama dikenal oleh anak, jadi dalam lingkungan keluargalah watak dan kepribadian anak akan dibentuk yang sekaligus akan mempengaruhi perkembangannya di masa depan.

Di mata anak, orang tu (ayah ibu) adalah figur atau contoh yang akan selalu ditiru oleh anak-anaknya. Oleh sebab itu, ayah ibu harus mampu memberi contoh yang baik pada anak-anaknya, memberi pengasuhan yang benar serta mencukupi kebutuhan-kebutuhannya dalam batasan yang wajar.

Dengan memainkan peranan yang benar dalam mendidik dan mengasuh anak, anak akan tumbuh dan berkembang secara optimal. Dan yang tidak kalah pentingnya, anak akan tumbuh menjadi anak yang berkarakter tidak mudah larut oleh budaya buruk dari luar serta menjadi anak yang berkepribadian baik sebagai aset generasi penerus bangsa di masa depan.

Saran

Anak merupakan aset yang menentukan kelangsungan hidup, kualitas dan kejayaan suatu bangsa di masa mendatang. Oleh karena itu anak perlu dikondisikan agar dapat tumbuh dan berkembang secara optimal dan dididik sebaik mungkin agar di masa depan dapat menjadi generasi penerus yang berkarakter serta berkepribadian baik.

Keluarga adalah lingkungan yang pertama dan utama dikenal oleh anak. Karenanya keluarga sering dikatakan sebagai primary group.

Di sinilah peran orang tua yang memiliki pengalaman hidup lebih banyak sangat dibutuhkan membimbing dan mendidik anaknya. ditantang untuk mampu mengembalikan karakter anak dalam kapasitas agar anak dapat tumbuh dan berkembang sebaik-baiknya. Apabila dikaitkan dengan hak-hak anak, menurut Sri Sugiharti (2005 :1) tugas dan tanggung jawab orang tua antara lain :

1.         Sejak dilahirkan mengasuh dengan kasih sayang.

2.         Memelihara kesehatan anak.

3.         Memberi alat-alat permainan dan kesempatan bermain.

4.         Menyekolahkan anak sesuia dengan keinginan anak.

5.         Memberikan pendidikan dalam keluarga, sopan santun, sosial, mental dan juga pendidikan keagamaan serta melindungi tindak kekerasan dari luar.

6.         Memberikan kesempatan anak untuk mengembangkan dan berpendapat sesuai dengan usia anak.

DAFTAR PUSTAKA

http://himpsi.web.id.42421.masterweb.net/publikasi0003.php

http://www.carisuster.com/artikel/7-inspired-kids/48-peran-pendidik-mempersiapkan-pendidikan-anak-usia-dini-di-era-global

http://www.orangtua.org/2011/09/28/7-tanggung-jawab-orang-tua-dalam-mendidik-anak/

Sumber: http://id.shvoong.com/social-sciences/sociology/1979420-dampak-globalisasi/#ixzz1j6WMeVul

PERAN PENDIDIK MEMPERSIAPKAN PENDIDIKAN ANAK USIA DINI DI ERA GLOBAL

Tugas Mata Kuliah PPKN

Nama Dosen      :

Nama Siswa       : SUMIRAT

NPM                      : 20111450043

Kelas                     : TQ 1

 

UNIVERSITAS INDRAPRASTA PGRI JAKARTA

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN EKONOMI EKSTENSI

2012

About these ads

Silahkan Tinggalkan Balasan Untuk Berbagi Dengan Kami, kami akan mengedit/menghapus isi komentar yang melecehkan/diluar etika.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s